Rabu, 26 November 2025

Balutan Kabut Penuh Cerita

    Saat masa UAS tiba, tugas dan project dari setiap mata kuliah terasa semakin berat dibanding sebelumnya. Tiap mata kuliah memiliki tantangan masing-masing, baik dari segi bobot maupun bentuk penugasan. Salah satu yang cukup unik adalah tugas akhir dari mata kuliah Olahraga dan Kebugaran Jasmani, yaitu membuat video latihan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh mahasiswa maupun karyawan. Tugas ini memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas mereka, dan saya memilih tema “Berolahraga Bersama Alam”. Menurut saya, alam memiliki suasana yang bisa dinikmati kapan saja, tidak hanya untuk piknik atau melepas penat, tetapi juga sebagai tempat yang ideal untuk olahraga.

    Saya memilih Gunung Gajah Telomoyo di Semarang sebagai lokasi pengambilan video. Bersama beberapa teman, kami menjadikan gunung ini sebagai destinasi utama sekaligus tempat camping agar bisa menikmati suasana pagi yang cocok untuk berolahraga. Perjalanan dari Yogyakarta menuju Gunung Gajah cukup jauh, sehingga kami memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di rumah saya di Magelang untuk bermalam. Kami berangkat dari Jogja sekitar pukul lima sore, sehingga tidak memungkinkan untuk langsung menuju Gunung Gajah karena cuaca yang mulai gelap dan jarak yang cukup jauh. Esok paginya, kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Telomoyo. Perjalanan terasa cukup lama karena kami membawa banyak barang, sehingga tidak memungkinkan berkendara dengan kecepatan tinggi.

    Sesampainya di daerah Telomoyo, kami mencari tempat makan untuk mengisi energi sekaligus men-charge ponsel. Saat itu, saya juga harus mengikuti Zoom mengenai peminatan jurusan Manajemen, jadi kami memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat sejenak. Setelah Zoom selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Gajah. Kami tiba di sore hari, membeli tiket masuk, lalu melalui jalan yang cukup ekstrem menuju area camping. Ketika sampai, hal pertama yang kami lakukan adalah menikmati suasana sekitar. Pemandangan dari atas gunung sangat menakjubkan, cukup untuk membuat kami diam sejenak dan meresapi momen tersebut.


    Karena hari mulai gelap, kami segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Proses pendirian tenda cukup penuh drama karena ini merupakan pengalaman pertama kami. Setelah beberapa kali mencoba, tenda akhirnya berhasil berdiri. Kami mulai menata barang-barang di dalam tenda dan bersiap membuat makan malam. Malam itu, kami meng-grill makanan sederhana seperti dumpling, sosis, bakso, dan jamur enoki. Meskipun sederhana, suasananya terasa sangat hangat. Namun, kabut tebal perlahan turun dan menyelimuti area pegunungan. Rasa takut mulai muncul karena hanya tenda kami yang ada di sana, tidak ada orang lain. Karena merasa kurang aman, kami memutuskan untuk menghubungi penjaga yang ada di bawah. Dua orang penjaga datang dan menemani kami, membuat suasana kembali cair. Kami menyalakan api unggun dan menikmati pemandangan malam dari atas gunung.


    Saat malam semakin larut, rasa kantuk datang. Kami kembali ke tenda dan beristirahat. Keesokan paginya, cuaca tampak lebih cerah. Kami sarapan dengan menu yang sama seperti malam sebelumnya, lalu bersiap melakukan proses pengambilan video olahraga untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Olahraga dan Kebugaran Jasmani. Setelah semua proses shooting selesai, kami membereskan tenda dan memastikan area tetap bersih sebelum meninggalkan lokasi. Dari puncak Gunung Gajah, kami memulai perjalanan pulang menuju Yogyakarta dengan perasaan lega. Tugas selesai, pengalaman pun bertambah. Perjalanan ini bukan hanya tentang proyek kuliah, tetapi juga tentang petualangan, kebersamaan, dan bagaimana alam ternyata bisa menjadi tempat olahraga yang menyembuhkan.

Langkah Baru Membuka Cakrawala

Lembar Baru Usung Cerita

     Malam Keakraban atau yang biasa disebut makrab merupakan salah satu kegiatan penting dalam sebuah organisasi karena mampu membangun bonding dan solidaritas antaranggota. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti acara makrab dari UKM Kewirausahaan Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari satu malam, tepatnya pada tanggal 1 hingga 2 November 2025. Sejak awal acara, kami sudah diarahkan untuk membaur dengan anggota lainnya melalui berbagai aktivitas yang telah disusun panitia. Seluruh peserta makrab dibagi menjadi beberapa gugus, dan saya tergabung dalam gugus Chatime. Pemilihan nama gugus didasarkan pada kategori makanan atau minuman, dan nama tersebut juga menjadi dasar ide perlombaan business plan. Karena gugus kami berada pada kategori minuman, kami menciptakan produk inovatif bernama Mojify, yaitu minuman soda yang dipadukan dengan berbagai varian rasa seperti blueberry, melon, mangga, dan beberapa rasa lainnya. Ide ini dipresentasikan pada hari pertama makrab dan menjadi pengalaman yang cukup menegangkan sekaligus menyenangkan karena setiap gugus berusaha memberikan penampilan terbaiknya.


     Tidak hanya business plan, makrab juga menghadirkan perlombaan lain seperti pensi, lomba masak, dan outbound. Pada perlombaan pensi, gugus kami mengangkat tema “Kehangatan Keluarga” yang melibatkan seluruh anggota untuk tampil dan berperan aktif. Suasananya hangat dan penuh kerja sama, sesuai dengan tema yang kami pilih. Pada lomba masak, kami mendapat tantangan untuk membuat makanan khas China, dan kelompok kami memutuskan untuk memasak ayam kokole sebagai sajian utama. Proses memasaknya cukup seru karena kami harus bekerja cepat namun tetap kompak agar hasilnya maksimal. Memasak bersama justru menjadi bagian yang paling berkesan karena dari sana rasa kebersamaan benar-benar terasa. Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan outbound yang dilaksanakan sejak pagi. Outbound ini terdiri dari beberapa pos dengan berbagai tantangan menarik yang harus kami selesaikan secara berkelompok. Walaupun melelahkan, kegiatan ini justru semakin mengukuhkan kekompakan antaranggota.



     Sebagai penutup, makrab diakhiri dengan pelantikan anggota baru serta awarding. Hasilnya cukup membanggakan karena gugus kami berhasil meraih juara 1 pada lomba pensi dan juara 2 pada lomba memasak. Dari seluruh rangkaian kegiatan, saya menyadari bahwa makrab bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi menjadi wadah untuk mempererat hubungan, belajar bekerja sama, dan memahami karakter satu sama lain. Melalui makrab ini, saya mendapatkan pengalaman berharga yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membentuk rasa memiliki terhadap organisasi. Dari sinilah cerita kebersamaan kami dimulai dan semoga terus tumbuh semakin kuat.

Selasa, 11 November 2025

Intip Keseruan Volunteer Ticketing di Prambanan Jazz 2025

    Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi salah satu volunteer di Prambanan Jazz 2025, sebuah pengalaman yang sangat berkesan dan penuh makna bagi saya. Tahun ini, Prambanan Jazz atau yang akrab disebut PraJazz diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, tepatnya pada tanggal 4, 5, dan 6 Juli 2025, di Pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta. Dengan mengusung tema Sebelas Selaras, PraJazz kembali menghadirkan perpaduan harmonis antara musik jazz dan keindahan budaya Nusantara. Tidak hanya sekadar konser musik, acara ini juga menjadi wadah untuk merayakan kekayaan budaya Indonesia, terlihat dari dekorasi bernuansa cheerful dan kampanye “Berkain” yang mengajak pengunjung untuk mengenakan kain atau batik sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya nasional.

    Saya tergabung dalam divisi ticketing, bersama sekitar 40 orang volunteer lainnya beserta kepala divisi yang memimpin kami. Meskipun berada di balik layar, divisi ini memiliki peran penting dalam kelancaran acara. Kami bertugas memastikan setiap pengunjung mendapatkan tiket yang sesuai, mengatur alur masuk, serta memberikan pelayanan terbaik kepada mereka yang membutuhkan bantuan atau informasi mengenai acara. Selain itu, kami juga belajar mengatur waktu agar tetap seimbang antara pekerjaan dan kebutuhan pribadi, seperti beristirahat atau beribadah di tengah padatnya jadwal konser. Dari pengalaman ini, saya banyak belajar tentang komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen waktu dalam situasi yang dinamis.

    PraJazz 2025 juga memberikan perhatian besar terhadap kenyamanan pengunjung dengan menghadirkan berbagai fasilitas yang lengkap. Di area konser tersedia toilet umum yang bersih, mushola untuk beribadah, serta Pasaraya, yaitu area yang dipenuhi berbagai tenant makanan dan minuman yang menarik. Selain itu, terdapat berbagai booth lain yang menunjang kebutuhan pengunjung, mulai dari stand merchandise hingga area informasi. Semua elemen ini dirancang agar setiap orang yang datang bisa menikmati konser dengan nyaman, tanpa harus mengkhawatirkan hal-hal kecil di luar hiburan utama.

    Konser yang berlangsung selama tiga hari ini menampilkan jajaran musisi luar biasa dari dalam dan luar negeri. Hari pertama, tanggal 4 Juli 2025, menjadi pembuka yang megah dengan penampilan Juicy Lucy, Sal Priadi, Tulus, Yuni Shara, Bernadya, hingga musisi internasional EAJ. Suasana malam itu terasa magis, apalagi dengan latar megah Candi Prambanan yang diterangi cahaya panggung. Hari kedua, 5 Juli 2025, menghadirkan energi yang lebih beragam, dengan deretan musisi seperti Om Lorenza, Yovie & Nuno, Rony Parulian, Dere, Teddy Adhitya, Raisa x Bernadya, Nadin Amizah, Kunto Aji, EAJ, hingga Pamungkas yang menutup malam dengan penampilan yang memukau. Puncaknya terjadi pada hari ketiga, 6 Juli 2025, ketika panggung PraJazz diisi oleh musisi legendaris dan generasi baru yang tampil bergantian, seperti WiYos 80, Yura Yunita, JKT48, Ardhito Pramono, Shaggy Dog Brass Band, Kenny G, Ari Lasso, GIGI, Vina Panduwinata, Maliq & D’Essentials, hingga Dewa 19 ft. Marcello Tahitoe. Melihat semua penampilan itu dari balik area ticketing membuat saya merasa bangga. Meskipun tidak berdiri di depan panggung, saya turut menjadi bagian kecil dari keberhasilan besar sebuah acara musik bergengsi.

    Menjadi volunteer di Prambanan Jazz 2025 bukan hanya sekadar pengalaman kerja sukarela. Bagi saya, ini adalah proses pembelajaran yang nyata tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan pelayanan publik. Ada banyak hal sederhana yang ternyata membawa kebahagiaan besar seperti saat membantu pengunjung yang kebingungan menemukan pintu masuk, atau ketika mendengar ucapan terima kasih tulus dari mereka yang kami layani. Di momen-momen itu saya menyadari bahwa kontribusi sekecil apa pun tetap berarti bagi kelancaran sebuah acara besar.

    Tiga hari di bawah langit Prambanan menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Saya belajar bagaimana bekerja sama dengan tim yang baru saya kenal, beradaptasi di lingkungan yang dinamis, dan tetap menjaga semangat di tengah kelelahan. Setiap teriakan penonton, setiap nada musik yang menggema, hingga setiap tawa bersama sesama volunteer menjadi bagian dari cerita berharga yang saya simpan. Pengalaman ini membuat saya semakin menghargai kerja keras orang-orang di balik layar yang mungkin tidak terlihat, tetapi memiliki peran besar dalam menciptakan momen berharga bagi ribuan orang.

    Jika ada satu hal yang saya pelajari dari pengalaman ini, maka itu adalah bahwa setiap acara besar tidak akan pernah berjalan sempurna tanpa kerja sama dan dedikasi dari semua pihak yang terlibat. Saya bangga pernah menjadi bagian dari mereka berdiri di antara hiruk pikuk tiket, senyum pengunjung, dan dentuman musik yang menggetarkan malam di pelataran Candi Prambanan.


Manifestasi Kesuksesan Lewat Visi dan Keyakinan Tanpa Batas

     Merry Riana adalah salah satu motivator populer di Indonesia, kisah hidupnya sering dianggap sebagai contoh nyata bagaimana kekuatan pi...